M A M A K
“Alah sampai Mak Datuak? Alah Sutan. Sapanjang kato Mak datuak nan katangah, indak tarago nak diulang kok bisik lah tadanga kok himbau lah kalampauan. Dek kami duduak lai duo batigo, iyo nak ambo bao baiyo paretongan nan Mak Datuak sampaikan. Kok mananti Mak Datuak agak sajamang, baa kiro-kiro? Alah pada tampaiknyo tu Sutan, mananti salamaik kami.” (Sudah selesai Mak Datuak? Sudah Sutan. Sebanyak rundingan yang Mak Datuak sampaikan, dan tidak perlu diulang lagi semuanya sudah terdengar/diketahui oleh orang banyak. Karena kami yang hadir ini lebih dari berdua, sebaiknya saya bawa bermusyawarah rundingan yang Mak datuak sampaikan. Bagaimana kalau menanti Mak Datuak agak sebentar? Sudah pada tempatnya itu Sutan. Kami tunggu dengan doa selamat.)
Itulah salah satu bentuk tatakrama yang ada dalam masyarakat kami ketika mau membicarakan sesuatu. Semua yang hadir dalam ruang pertemuan itu diajak ikut bicara memberikan masukan atau menguatkan yang telah disampaikan terlebih dahulu. Pada kondisi seperti ini berlakulah pepatah yang mengatakan “Duduak surang basampik-sampik, duduak basamo balapang-lapang”. Tidak ada perselisihan dan persengketaan yang tidak dapat diselesaikan kalau dibicarakan secara musyawarah (bersama).
“Baa dek waang Buyuang (nama panggilan kesayangan aku di waktu kecil), jo nan disampaikan dek Mak datuak tadi, kok bisiak alah kadangaran kok himbau alah kalampauan? Lai sapakaik waang jo nan diampaikan mamak waang sabantako? Kalau indak, baa nan karancak dek waang, buliah bisa pulo disampaikan ka Mak datuak.” (Bagaimana dengan kamu Buyuang, seperti yang disampaikan Mak Datuak tadi tentang yang menjadi rundingan kita hari ini seperti yang sudah diketahui orang banyak? Setujukah kamu dengan usul yang disampaikan oleh Mamak kamu sebentar ini? Kalau kamu tidak setuju, menurut kamu yang baiknya bagaimana, boleh bisa pula disampaikan kepada Mak Datuak.)
Mulanya, aku tidak tahu bahwa pertanyaan itu ditujukan padaku makanya aku diam saja. Setelah dibisiki oleh Ibu, baru aku tahu bahwa kakakku yang tertua (Da Malin) bertanya dan meminta pendapat padaku. Aku pun menjadi gelagapan dan pucat serta malu karena tidak tahu apa yang harus kusampaikan, apalagi berbicara dengan bahasa Minang totok. Lagi-lagi ibuku yang menjadi dewa penyelamat, “kecekkan sajo ka si Malin tu waang satuju sajo jo pandapek uda Malin tantang rundingan tu” (katakan saja pada si Malin itu bahawa saya setuju dengan yang disampaikannya) Akhirnya, dengan terbata-bata aku pun mencoba menyampaikan yang dikatakan ibuku tadi kepada kakakku. “Iyo da Malin, ambo, ambo . . . ambo iyo satuju sajo baa nan rancak di uda sajolah.” (Iya da Malin, saya, saya . . . saya setuju saja bagaimana yang bagus sama da Malin sajalah).
“Hoi Amran (nama asliku), baa kecek waang kamamulangi anak mamak waang, babahaso Minang sajo waang kini alah indak pandai lai tampaknyo. Ka waang gunggung habih pulo si Rosni ka Batawi tu sudah manikah, sorak bakoku padaku sambil tertawa.” (Hoi Amran, bagaimana kamu akan menikahi anak mamak kamu, berbahasa Minang saja tampaknya kamu sudah tidak bisa lagi. Akan kamu bawa lari habis si Rosni ke Jakarta itu setelah menikah, seru bakoku padaku sambil tertawa.) Ibuku yang duduk di sampingku hanya tersenyum simpul mendengar gurauan bakoku tadi. Hanya ayahku saja yang duduknya pas berhadapan denganku yang terdiam dengan muka memerah mendengar gurauan tadi.
Dua jam perundingan secara adat tentang pernikahan adik perempuankku berjalan sudah tapi tampaknya belum akan selesai dalam waktu cepat. Dudukku pun mulai gelisah. Keringat pun mulai membasahi badanku. Padahal kampungku itu adalah sebuah desa yang berada di perut gunung dengan udaranya yang cukup dingin. Karena dalam perundingan itu aku selalu diajak untuk bermusyawarah dalam bahasa Minang. Setiap jawaban yang kusampaikan (hasil bisikan dari ibuku) selalu menjadi bahan tertawaan yang lucu bagi keluarga besarku yang hadir.
Begitu banyak aku hadir dalam acara-acara seminar, simposium, lokakarya baik yang bersifat nasional maupun untuk tingkat internasional, belum pernah aku mengalami mandi keringat seperti musyawarah keluarga di kampunkug ini. Pengalaman yang sangat berharga dalam hidupku. Tidak ada lagi arti jabatan tinggi dan kekuasaan yang besar dalam musyawarah kelauarga adat.. Aku merasa menjadi anak kecil yang harus banyak belajar. Kata-kata putus hasil musyawarah yang didengar dan harus diikuti dalam acara itu adalah kata-kata dari Datuk. Datuk merupakan pemimpin tertinggi dalam kaum pasukuan.
“Rosni, Rosni, kamarilah kau! Bilo kau alah jadi bini si Amran iyo harus pandai-pandai kau maajainyo babahaso Minang jo baradaik Minang. Kalau indak bias-bisa anak-anak kau nantiknyo manjadi urang indak baradaik. Malu awak biko jo urang kampuang”, sorak si Piyan kakak si Rosni. (Rosni, Rosni, kemarilah kamu! Setelah kamu jadi isteri si Amran, kamu harus pandai mengajari dia berbahasa Minang dan adat Minang. Jika tidak, jangan-jangan anak-anak kamu nantinya menjadi orang yang tidak mengerti adat. Malu kita nanti dengan orang kampung, seru si Piyan kakaknya si Rosni.) Mendengar perkataan seperti itu badanku menjadi lemas dan mukaku memerah.
Aku betul-betul tidak menyangka, bahwa mamakku tanpa setahuku telah menjodohkan putrinya dengan aku dan itu pun disetujui oleh ibuku. Gunjingan perjodohanku dengan si Rosni telah merebak di seluruh kampung. Orang-orang dikampung pun sudah meyakini pernikahan kami akan terjadi. Sebab mamakku adalah orang yang paling berpengaruh dalam kaumku setelah Mak datuak. Tidak satu pun di antara anak kemenakannya yang berani membantah perkataannya.
Sebetulnya aku memang sudah sangat lama tidak pulang ke kampung. Selama itu pula jika aku sedang rindu dengan keluarga di kampung, mereka aku kirimi tiket untuk datang ke Jakarta. Biasanya sekali enam bulan pasti ada yang ke Jakarta. Kadang-kadang Ibu dan Bapak yang ke Jakarta atau mamakku, dan kadang-kadang kakak perempuanku yang datang dengan suami dan anknya kalau tidak pasti da Malin atau Ijah adikku yang bontot. Tiba-tiba tiga hari yang lalu, mendadak Aku disuruh pulang oleh mamakku untuk membicarakan pernikahan, ijah, adik perempuanku satu-satunya.
Aku sekarang bak makan buah simalakama. Mamakku adalah orang terpandang dan berpengaruh. Jika tak menuruti keinginannya, jangan-jangan aku yang akan menjadi penyebab pecahnya kaum sukuku. Dituruti kemauan mamak dan ibuku, bagaimana janjiku dengan keluarga calon isteriku, orang Makasar, di Jakarta. Sementara aku selama ini selalu menganggap Rosni sebagai adikku dan tidak pernah ada punya perasaan-perasaan lain. Kebetulan dia pun seusia dengan adikku Ijah dan juga teman sepermainannya sejak kecil.
Menghadapi permasalahan ini, aku betul-betul terjepit. Hanya bapakku yang selalu memberi dukungan kepadaku. Beliaulah satu-satunya orang yang sangat tidak setuju aku mengawini Rosni. Beliau tidak menginginkan hubungan kekeluargaan yang ada selama ini menjadi pecah akibat perkawinanku dengan Rosni. Sayangnya beliau tidak mau mengungkapkan mengapa perkawinanku dengan Rosni bisa menyebabkan perpecahan hubungan keluarga. Beliau sebetulnya juga telah berusaha supaya perjodohan itu tidak terjadi dengan memberikan pandangan pada ibuku. Tetapi, ibuku tidak menyetujui pandangan Bapak, ibu lebih sependapat dengan pandangan mamak.
Usai sudah pernikahan dan pesta perkawinan Ijah adikku. Malamnya aku pun berbincang-bincang dengan ibu, uni Mar dan uda Malin beserta Bapak. Selagi kami asyik-asyiknya berbicara, Bapak melontarkan pertanyaan padaku, “Bilo waang ka baliak ka Jakarta Buyuang?” (kapan kamu akan kembali ke Jakarta Buyuang), katanya pelan tapi tajam. Aku pun terkesiap mendengar pertanyaan Bapak. Belum sempat aku menjawab, ibu telah lebih dulu menjawabnya “baa kok uda tanyoaan bana bilo si Buyuang baliak ka Jakarta. Inyo jaleh baru sapuluah hari di rumah dan mamaknyo pun alun sempat manyampaikan rencana kabaralek gadang antaro si Buyuang jo si Rosni” (kenapa uda tanyakan betul kapan si Buyuang akan kembali ke Jakarta. Dia jelas baru sepuluh hari di kampong dan mamaknya pun belum sempat menyampaikan rencana peseta perkawinan besar antara si Buyuang dengan si Rosni), celoteh ibu pada Bapak. Bapak pun hanya diam saja dan merasa malas mengomentari celoteh ibu. Beliau tetap menatap mukaku sambil menunggu jawabanku. Dua hari lagi Pak pasnya hari Rabu, karena hari Kamis aku sudah masuak kerja lagi. “Ancak baitu, samakin capek waang baliak samakin rancak” (bagus seperti itu, semakin cepat kamu kembali semakin baik), jawab Bapak sambil menghela nafas.
Tiba-tiba dengan nada yang agak marah ibu pun membentak Bapak, “Baa kok uda mengecek sarupo itu, indak sanang mancaliak anak lamo di rumah?” (Mengapa uda bicara seperti itu, apa tidak suka melihat anak lama di rumah?). Bapak hanya diam saja tanpa berkomentar. Akhirnya bincang-bincang kami sekluarga malam itu tidak lagi berjalan dengan santai. Ibu selalu memprotes dan membentak setiap Bapak berbicara tentang aku, sementara Bapak tidak pernah mau mengomentari setiap protes dan bentakkan ibu.
Paginya aku pun terlambat bangun sehingga saholat subuh pun tak sempat kukerjakan. Aku terbangun itu pun karena dibangunkan oleh ibu karena mamakku mencariku. Aku pun terkejut dan langsung bangun dan terus ke kamar mandi membersihkan badan. Selesai aku membersihkan badan aku pun terus ke ruangan tengah. Di situ sudah duduk mamakku sambil menghadapi secangkir kopi. “Hehemmm lamak bana lalok waang malamko Buyuang sampai talaik bagai jago?” (Enak betul tidur kamu mala ini Buyuang, sampai terlambat bangun), tanya mamak sambil mendehem. Sambil menarik kursi untuk duduk aku pun menjawab, “Tidak Mak, semalam kami tidurnya memang agak terlambat karena asyik bercerita sama ibu, uni, uda dan bapak. Oh ya sudah lama Mamak naik ke rumah?” Sebelum menjawab, mamak mengambil,cangkir kopinya dan menghirup isinya. Sambil meletakkan kembali cangkir kopi mamak pun menjawab, “alah satangah jam labiah, lah ampia habih pulo kopi den” (Sudah setengah jam lebih, dan sudah hamper habis pula kopi saya”.
“Amran, tadanga dek den tadi disampaikan amak waang, iyo hari Rabu bisuak waang ka baliak ka Jakarta. Kalau iyo waang hari rabu bisuak ka baliak baa carito paretongan waang jo si Rosni? Aden jo amak waang alah sapakaik kamalangsungkan parnikahan kalian sabalun puaso bisuak. Baa nan rancak dek waang Amran?” (Amran, saya dengan seperti yang tadi disampaikan oleh ibu kamu tadi, betul hari rabu besok kamu akan kembali ke Jakarta?.Bila iya kamu akan kembali hari Rabu besok, bagaimana jelasnya hitungan pernikahan kamu dengan si Rosni? Saya sama ibu kamu sudah sepakat untuk melangsungkan acara pesta pernikahan kalian sebelum masuk puasa besok ini. Menurut kamu bagaimana yang baiknya, Amran). Inilah pertanyaan mamak yang sangat kutakuti setelah mendapat kabar tentang perjodohanku dengan Rosni. Lama, sangat lama sekali. Setelah kutarik nafas pelan-pelan makan dengan segala keberanian yang ada pada diriku aku mencoba menjawab pertanyaan mamak tadi.
“Perjodohan saya dengan Rosni bagaimana Mak, bukankah Rosni adalah adik saya juga. Bukankah selama ini saya selalu memanjakan Rosni sebagai adik kandung seperti saya memanjakan Ijah? Kata-kata pun keluar dari mulutku secara lancar seakan aku sedang berhadapan bukan dengan mamakku, mamak yang mempunyai kekuasaan penuh dalam kaum. “Batua kato waang tu Buyuang, Si Rosni itu iyo adiak waang juo saroman ka si Ijah, tapi kan indak ado pulo salahnyo kalau kalian dipatamukan. Apo si Rosni itu indak cocok bantuaknyo dek waang, atau dek sikolanyo hanyo tamaik SMA sajo sahinggo maraso malu waang kalau inyo jadi bini waang?” (Betul katamu itu. Si Rosni itu adik kamu seperti kamu memandang si Ijah, tetapi tidak ada salahnya kalau kalian dinikahkan. Apa si Rosni itu tidak cocok rupanya buat kamu atau karena sekolahnya hanya tamat SMA saja sehingga kamu merasa malu kalau dia jadi isteri kamu?) Jawab mamakku dengan muka yang angker dan nada suara mulai agak tinggi. Rasa takutku yang tinggi awalnya, mulai berangsur-angsur berkurang sehingga aku pun berani menjawab pertanyaan mamak.
“Bukan begitu maksudku mak. Kalau dari segi rupa, Rosni tidak kalah cantik dari artis-artis yang ada di Jakarta. Bahkan setahu saya, selama ini si Rosni adalah bunga desa dan sangat banyak pemuda-pemuda yang mengejar-ngejarnya. Kalau masalah sekolah, saya pun awal berangkat untuk bekerja juga tamat SMA hanya nasib baik saja yang membawa peruntungan hidup ini.” Sambil berdiri dan membelakangi meja dengan setengah membentak dia pun berkata, “kalau itu jawek waang, banga waang indak namuah dikawinkan jo si Rosni samantaro aden jo amak waang alah sapakaik untuk manikahkan kalian baduo sahinggo hubungan kakaluargaan awak labiah arek jadinyo.” (Kalau itu jawabmu, kenapa kamu tidak mau dikawinkan dengan si Rosni sementara saya dengan ibu kamu sudah sepakat untuk menikahkan kalian berdua sehingga hubungan kekeluargaan kita lebih erat jadinya.) Mendengar bentakan mamak yang tidak mau memandangku, rasa takut itu kembali muncul maklum mamakku itu juga seorang “pandeka”. Aku menoleh ke arah ibu untuk minta bantuan beliau, tapi ibu pun pura-pura tidak melihat aku. Akhirnya dengan ketakutan yang kutekan, aku pun berbicara pada mamak,
“Mamak, sampai saat ini aku belum ada berniat untuk beristeri. Aku sedang berpacu dengan karirku dan aku pun belum merasa terlalu terlambat untuk menikah karena usiaku baru 29 tahun. Sementara, kalau si Rosni sudah ingin menikah, ya nikahkan saja dulu dengan pria pilihannya.”
Sambil mengeretakkan geraham dan menghentakkan kaki melangkah menuju pintu rumah, “kamanakan indak babanak, mantang-mantang urang bapangkaik, kecek waden inyo bantah dan inyo lawan pulo jo alasan-alasan nan indak masuak diaka. Alah jaleh diaden bahaso anak den indak katuju dek paja ko. Bialah, kok kababini waang kok indak kababini waang salasaikan sajo di waang surang. Usah waden dibaok-baok sato, alah jaleh dikau tu Imah!” (Kemenakan tidak punya otak, mentang-mentang orang berpangkat, kata-kata saya dibantahnya dan dilawan pula dengan alasan-alasan yang tidak bisa diterima oleh akal. Biarlah, mau beristeri kamu atau tidak mau beristeri kamu, kamu selesaikan saja sendiri. Jangan dibawa-bawa ikut saya, sudah jelas bagi kamu itu Imah!), sambil berjalan memandang ibu. Ibu hanya terpekur saja melihat pertengkaran aku dengan mamak.
Ibuku pun menangis sepeninggal mamak. Dalam tangisnya Ibu pun berujar, “Itulah waang Buyuang, banga waang bantah kecek mamak waang. Waang kan tau sipaik mamak waang salamoko. Inyo urang nan indak namuah dibantah dan bapantang suruik kalau alah mangaluakan kecek. Ciek itu mamak kanduang waangmyo Buyuang, kinilah ditinggakannyo awak sakuluarga.” (Itulah kamu, buyuang, mengapa kamu membantah kata-kata mamak kamu. Kamu selama ini sudah tahu dengan sifat mamak. Mamak itu adalah orang yang tidak mau dibantah dan dia itu berpantang untuk mencabut kata-katanya kembali kalau sudah mengeluarkan suatu perkataan. Hanya satu orang itu saja lagi yang mamak kandung kamu, dan sekarang kita sekeluarga sudah ditinggalkannya). Aku pun hanya terdianm saja mendengarkan perkataan ibu. Serba rumit dan serba sulit, kepalaku bertambah pusing memikirkannya. “Apakah aku harus menuruti kemauan mamak? Tidak, calon isteriku sudah menunggu di Jakarta”, teriak suara hatiku. Dan apa pun yang kan terjadi aku harus mengambil kesimpulan bahwa aku tidak akan menikahi Rosni.
Malamnya, aku pun dikeroyok oleh Uni, Uda, dan adikku Ijah mengenai pertengkaranku dengan mamak pagi tadi. Hanya Bapak yang mencoba membela keputusan yang telah kuambil. “Jan dipasoan si Amran ko manikahi si Rosni, biakan sajo inyo mancari pasangan hiduiknyo surang, karano nan kamamakai inyo surang, indak awak. Mar, Malin, dan kau Ijah apo salamoko kalian mancari pasangan ado Bapak jo Ibu nan mahalangi pilihan kalian dan apokah ado Bapak jo Ibu mamasokan pilihan kapado kalian? Co jawek dek kalian! Kalau indak, banga kini kalian ikuik pulo mamasoan kainginan mamak kalian ka si Buyuang? Sakironyo si Buyuang itu adolah badan kalian surang apo nan kakalian lakukan? (Jangan paksakan si Amran untuk menikahi si Rosni, biarkan dia mencari pasangan hidupnya sendiri, karena yang akan memakai adalah dia sendiri, bukan kita. Mar, Malin dan kau Ijah apa selama ini kalian mencari pasangan ada Bapak dan Ibu yang menghalangi pilihan kalian dan apakah ada Bapak dan Ibu memaksakan pilihan pada kalian? Coba kalian jawab! Kalau tidak, kenapa sekarang kalian ikut pula memaksakan kemauan mamak kalian pada si Buyuang? Seandainya posisi si Buyuang itu adalah diri kalian sendiri apa yang akan kalian lakukan?), ujar Bapak dengan wajah keras dan tegar. Akhirnya, Ibu, Uni Mar, Uda Malin dan si bungsu Ijah pun terdiam sambil menekuri lantai rumah, yang papannya baru saja diganti, mendengarkan perkataan Bapak.
Pagi-pagi aku sudah bangun dan mempersiapkan segala barang-barangku untuk kembali ke Jakarta. Ibu, Uni, dan Ijah sudah sibuk pula membuat srapan pagi sebelum aku berangkat meninggalkan kampung. Sementara Bapak duduk-duduk di etras rumah dengan ditemani secangkir kopi. Ketika aku melangkahkan kaki untuk keluar rumah, terdengar suara Bapak bertanya, “Pai kama waang Buyuang, alah minum bagai waang?” (Pergi kemana kamu Buyuang, apa sudah minum kamu?), sambil menatapku tajam.
“Belum Pak, aku belum mau minum, aku mau ke rumah mamak sebentar”, ujarku sambil melangkah ke pekarangan rumah. “Banga juo waang kianlai? Beko marabo pulo inyo ka waang, (Mengapa juga kamu ke situ lagi? Nanti marah pula dia sama kamu), kata Bapak sambil berdiri mendekatiku.
“Tidak apa-apa Pak, saya hanya mau pamitan kepada beliau. Tidak enak pula rasanya kalau saya berangkat ke Jakarta tidak pamitan sama beliau”, jawabku untuk menguatkan kepergianku ke rumah mamak.
“Batua juo tu, baa pun inyo adolah mamak waang. Elok-elok sajolah jan ditambah pulo masalah baru lai!” (Betul juga itu, bagaimana pun juga dia adalah mamak kamu. Baik-baik sajalah dan jangan ditambah pula permasalahan yang baru!) kata Bapak sambil melepas kepergianku.
“Assalamualaikum, ada orang di rumah? Etek! Etek, ada Etek di rumah?” Seruku di halaman rumah mamakku sambil memandang ke dalam rumah. Tiba-tiba terdengan sahutan dari belakang rumah, “ Alaikum salam, sia tu!? Tuan, Tuan sia tuh dilua ah ado tamu tu, caliak lah sabanta ambo sadang di balakang!” (Alaikum salam, siapa itu!? Tuan, Tuan ada siapa di luar, ada tamu kelihatannya, tolong lihat sebentar, saya sedang di belakang!)
“Masuaklah, sia tu?” terdengar suara berat dari dalam rumah yang menyuruh masuk. Saya Mak, saya Amran! Sahutku dari halaman rumah dengan rasa was-was.
“Oi, waang kironya! Ado apo lai waang kamari??? Alah batuka pangana waang tantang nan kapatang? Kalau alun ndak paralu waang naik ka rumah ko do! (O, kamu rupanya! Ada apa lagi kamu ke sini??? Sudah bertukar pikiran kamu tentang yang kemarin? Kalau belum tidak perlu kamu menaiki rumah saya!)
Terkesima aku dibuatnya, mendengar perkataan Mamak yang tidak lagi ramah padaku, setelah dia tahu siapa yang datang ke rumahnya. Aku coba juga menjawabnya walapun agak terbata-bata, “Tidak Mak, aku kemari tidak untuk membicarakan persoalan kemarin Mak tapi mau pamitan sama Mamak, Etek dan adik Rosni bahwa aku akan kembali ke Jakarta pagi ini.”
Mamak masih berdiri di ambang pintu rumahnya sambil bertolak pinggang. “Indak paralu bagai diden. Kok kabakirok waang bakirok sajolah jan sampai mambuek aden tambah suga mancaliak waang. Ancak waang capek-capek angkek kaki dari rumah aden ko sabalun tibo kaki ko di pusek waang!” (Tidak perlu sama saya. Mau berangkat kamu berangkat sajalah kamu jangan sampai membuat saya lebih marah melihat kamu. Lebih bagus kamu cepat-cepat angkat kaki dari rumah saya sebelum tiba kaki ini di pusar kamu!). Bentak Mamak, sambil menutup pintu rumahnya.
Aku pun tertunduk lesu jadinya, dengan perasaan tidak enak dan sedih terpaksa aku tinggalkan rumah Mamak kembali menuju rumah orang tuaku. Sepanjang jalan ke rumah, aku hanya tak habis pikir tentang mamakku yang ingin selalu memaksa. Bila ada orang yang tidak sepikiran dengannya, maka orang tersebut pun dimusuhinya termasuk adik kandungnya sendiri.
Desaku yang indah, nyaman dan sejuk! Apakah ini adalah kepulanganku yang terakhir untuk menikmati keindahan dan kesejukanmu? Karena kepulanganku pasti tidak lagi diharapkan oleh keluarga ibuku. Apalagi kalau aku jadi menikahi gadis Makasar tahun besok, entah bagaimana badai yang akan melanda Bapak, Ibu, Uni, Uda, dan Ijah di kampung. Aku hanya kuatir kan keadaan ibu, beliau sangatlah takutnya kepada kakaknya atau Mamakku itu.
Kampung halamanku yang damai, maafkanlah aku jika ini adalah kepulanganku yang terakhir menikmati aliran air sungai ketika mandi, mencicipi panasnya kopi di malam yang dingin sambil memakan jagung bakar. Bukannya aku tak merindukanmu, tapi kondisi yang membuatku harus menahan langkah untuk menikmati kamu kembali. Mudah-mudahan aku masih sempat kembali menikmati alammu yang indah permai, dan damai ini.
Bukittinggi, 20 Oktober 2009
Catatan:
1. Bako (Keluarga dari pihak ayah)
2. Batawi (Jakarta sekarang)
3. Bini (isteri)
4. Buyuang (panggilan untuk anak laki-laki)
5. Mamak (kakak/adik dari ibu)
6. Mak Datuak (pimpinan tertinggi dalam suatu kaum)
7. Minang totok (Minang asli)
8. Pandeka (pendekar)