<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>KOPPI (Komunitas Peduli Pendidikan Indonesia)</title>
	<atom:link href="http://labiah.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://labiah.wordpress.com</link>
	<description>Baik buruknya pendidikan ditentukan oleh 3 unsur; pemerintah, masyarakat, dan anak didik</description>
	<lastBuildDate>Sat, 06 Aug 2011 17:20:42 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='labiah.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/f7ac86681977cf767d2c8d6b54bf00c9?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>KOPPI (Komunitas Peduli Pendidikan Indonesia)</title>
		<link>http://labiah.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://labiah.wordpress.com/osd.xml" title="KOPPI (Komunitas Peduli Pendidikan Indonesia)" />
	<atom:link rel='hub' href='http://labiah.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>PERMENDIKNAS NOMOR 28 TAHUN 2010</title>
		<link>http://labiah.wordpress.com/2011/03/15/permendiknas-nomor-28-tahun-2010/</link>
		<comments>http://labiah.wordpress.com/2011/03/15/permendiknas-nomor-28-tahun-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Mar 2011 15:28:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ARMEL</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://labiah.wordpress.com/?p=27</guid>
		<description><![CDATA[PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 28 TAHUN 2010 (Tentang Penugasan Guru sebagai kepala sekolah/Madrasah) *Drs. Armel Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 28 tahun 2010 adalah aturan yang mengatur tentang penugasan guru sebagai kepala sekolah/madrasah. Permendiknas ini sekaligus sebagai pengganti Kepmendiknas Nomor 162 tahun 2003 tentang pedoman penugasan guru sebagai kepala sekolah. Permendiknas Nomor 28 tahun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=labiah.wordpress.com&amp;blog=9823569&amp;post=27&amp;subd=labiah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL<br />
NOMOR 28 TAHUN 2010<br />
(Tentang Penugasan Guru sebagai kepala sekolah/Madrasah)<br />
*Drs. Armel</p>
<p>Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 28 tahun 2010 adalah aturan yang mengatur tentang penugasan guru sebagai kepala sekolah/madrasah. Permendiknas ini sekaligus sebagai pengganti Kepmendiknas Nomor 162 tahun 2003 tentang pedoman penugasan guru sebagai kepala sekolah.<br />
Permendiknas Nomor 28 tahun 2010 memuat 10 Bab dan 20 pasal. Dalam Permendiknas tersebut diatur tentang tata cara penyiapan, pengangkatan, masa tugas dan pemutasian kepala sekolah/madrasah. Dalam Permendiknas diatur dengan tegas mencantumkan persyaratan untuk seorang guru yang dapat ditugaskan sebagai kepala sekolah/ madrasah. Begitu juga tentang aturan pengangkatan kepala sekolah/madrasah yang lebih tegas diberikan bila dibandingkan dengan Kepmendiknas Nomor 162 Tahun 2003. Masa tugas dan masa berakhirnya tugas kepala sekolah diatur lebih rinci dan lebih jelas. Begitu juga selama menjabat tugas kepala sekolah, tentang tuntutan penembangan keprofesian yang harus dilaksanakan oleh kepala sekolah/ madrasah selama menjabat kepala sekolah/madrasah.<br />
Pemutasian atau pemberhentian kepala sekolah selama ini merupakan suatu masalah yang paling krusial dalam dunia pendidikan di setiap daerah kabupaten/kota. Permendiknas Nomor 20 tahun 2010, BAB VIII mengartur secara tegas tentang mutasi dan pemberhentian tugas guru sebagai kepala sekolah/madrasah. Pasal 13 menyatakan, seorang kepala sekolah/madrasah dapat dimutasikan setelah melaksanakan masa tugas dalam 1 (satu) sekolah/madrasah sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun. Artinya, seorang kepala sekolah/madrasah baru boleh dilakukan mutasi terhadapnya bila dia telah bertugas selama 2 (dua) tahun di sekolah tersebut.Bila waktu 2 (dua) tahun tersebut belum terjalani kepala sekolah/madrasah bersangkutan tidak boleh dimutasikan.<br />
Begitu juga dengan pemberhentian dari penugasan kepala sekolah/madrasah lebih lanjut  diatur dalam pasal 14. Pasal 14 pada  ayat 1 mencantumkan ketentuan seorang kepala sekolah/ madrasah yang dapat diberhentikan dari jabatannya. Ketentuan tersebut adalah:<br />
a.	Berdasarkan permohonan sendiri<br />
b.	Berakhirnya masa penugasan (seperti yang diatur dalam pasal 10)<br />
c.	Telah mencapai batas usia pensiun jabatan fungsional guru<br />
d.	Diangkat pada jabatan lain<br />
e.	Sedang dikenakan hukuman disiplin sedang atau berat<br />
f.	Mempunyai kinerja kurang dalam melaksanakan tugas seperti yang diatur dalam pasal 12<br />
g.	Berhalangan tetap<br />
h.	Menjalani tugas belajar sekurang-kurangnya selama 6 (enam) bulan<br />
i.	Meninggal dunia</p>
<p> Selama ini, dengan alasan otonomi daerah penugasan guru sebagai kepala sekolah (baik mutasi maupun pemberhentian) masing-masing daerah membuat aturan sendiri sehingga terkesan seakan-seakan penugasan guru sebagai kepala sekolah suka-sukanya orang yang menentukan. Keluarnya Permendiknas Nomor 28 Tahun 2010 akan dapat menghilangkan kesan-kesan negatif dalam pemutasian/pengangkatan untuk penugasan guru sebagai kepala sekolah/madrasah di setiap daerah kabupaten/kota. Untuk itu Pemerintah daerah kabupaten/kota tentunya dituntut untuk dapat melaksanakan Permendiknas Nomor 28 Tahun 2010 ini secara konsisten.<br />
Pertanyaannya, apakah pengangkatan, pemberhentian atau pemutasian kepala sekolah yang telah dilakukan kabupaten/kota sejak bulan Nofember 2010 sampai sekarang sudah mengacu kepada Permendiknas Nomor 28 Tahun 2010? Bila jawabannya belum, hendaknya pejabat yang berwenang dengan legowo mengkaji ulang tentang pegangkatan, pemberhentian dan pemutasian yang telah dilakukan.<br />
Sesuai dengan hirarki tata perundang-undangan NKRI, aturan yang lebih rendah tidak boleh bertentangan dengan aturan yang lebih tinggi. Artinya, jika pemberhentian, pengangkatan, dan pemutasian kepala sekolah/madrasah yang telah dilakukan tidak sejalan dengan Permendiknas berarti keputusan yang telah dikeluarkan oleh daerah bertentangan dengan aturan yang lebih tinggi, yaitu Peraturan Menteri. Dan Otonomi Daerah bukan berarti menghalalkan peraturan yang lebih rendah bertentangan dengan aturan yang lebih tinggi.</p>
<p>					          *Direktur LSM<br />
Komunitas Peduli Pendidikan Indonesia (KOPPI)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/labiah.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/labiah.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/labiah.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/labiah.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/labiah.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/labiah.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/labiah.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/labiah.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/labiah.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/labiah.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/labiah.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/labiah.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/labiah.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/labiah.wordpress.com/27/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=labiah.wordpress.com&amp;blog=9823569&amp;post=27&amp;subd=labiah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://labiah.wordpress.com/2011/03/15/permendiknas-nomor-28-tahun-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f3b86c029fe966393aea61a500045ccd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">labiah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PARADOKSNYA DUNIA PENDIDIKAN KITA</title>
		<link>http://labiah.wordpress.com/2011/02/06/paradoksnya-dunia-pendidikan-kita/</link>
		<comments>http://labiah.wordpress.com/2011/02/06/paradoksnya-dunia-pendidikan-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Feb 2011 06:40:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ARMEL</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://labiah.wordpress.com/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[Tawuran antarpelajar semakin mengkhawatirkan. Baru-baru ini di kota Padang terjadi tawuran pelajar yang menelan korban nyawa. Dunia pendidikan Sumbar pun disorot berbagai pihak. Ujung-ujungnya yang menjadi kambing hitam selalu sekolah dan guru. Masyarakat ataupun pihak-pihak yang selalu menyudutkan dunia pendidikan seakan-akan tidak menyadari bahwa siswa lebih banyak berada dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Peranan keluarga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=labiah.wordpress.com&amp;blog=9823569&amp;post=25&amp;subd=labiah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> Tawuran antarpelajar semakin mengkhawatirkan. Baru-baru ini di kota Padang terjadi tawuran pelajar yang menelan korban nyawa. Dunia pendidikan Sumbar pun disorot berbagai pihak. Ujung-ujungnya yang menjadi kambing hitam selalu sekolah dan guru.</p>
<p>             Masyarakat ataupun pihak-pihak yang selalu menyudutkan dunia pendidikan seakan-akan tidak menyadari bahwa siswa lebih banyak berada dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Peranan keluarga dan masyrakat dalam membina akhlak dan moralitas serta pengawasan siswa selama di luar sekolah pun terabaikan. Mereka seakan beranggapan, bahwa semua yang terjadi bagi anak-anak dalam usia sekolah adalah tanggung jawab sekolah atau dunia pendidikan terutama guru.</p>
<p>            Ironinya di dunia pendidikan kita, ketika guru atau sekolah berbuat tegas dalam rangka mendidik siswa malah guru bersangkutan harus berhadapan dengan pengadilan (Singgalang, 21 Januari 2011). Seorang guru harus pasrah menerima tuntutan jaksa dan vonis pengadilan gara-gara memukul siswanya dengan sebilah bambu tipis dan kecil pada lengan dan bahu siswa tersebut. Pemukulan tersebut dilakukan sang guru dalam rangka mendidik siswa yang sering berkelahi atau menggangu temannya. Tetapi, lagi-lagi guru yang harus disalahkan sehingga harus berhadapan dengan penegak hukum.</p>
<p>                  Begitu juga ketika pihak sekolah terpaksa harus mengeluarkan siswa yang mengeroyok temannya dalam jam pelajaran, kejadian pengeroyokkan itu adalah untuk yang kedua kalinya, pihak sekolah pun disorot bahkan dikatakan kepala sekolah terlalu arogan. Pernyataan-pernyataan yang menyudutkan dan menyalahkan pihak sekolah atau kepala sekolah bermunculan dari berbagai pihak termasuk dari jajaran pendidikan dan anggota dewan yang terhormat. Alhasil pihak sekolah pun menjadi serba salah.</p>
<p>                  Penulis jadi teringat pesan orang-orang tua dulu yang berbunyi “padamkanlah api itu selagi dia kecil, kalau sudah besar dia akan membawa bencana bagi orang banyak”. Ketika pesan itu dianalogikan dengan yang terjadi di dunia pendidikan (tawuran pelajar), ternyata masyarakat kita atau pihak-pihak yang berwenang lebih cenderung suka melihat api itu menjadi besar (tawuran pelajar) dibandingkan memadamkannya saat kecil. Ketika api sudah menjadi besar, semua pihak kebakaran jenggot lalu mencari kambing untuk diwarnai.</p>
<p>                Analogi itu penulis ungkapkan, karena ketika guru memberikan hukuman pada siswa harus menerima menjadi pesakitan di pengadilan. Begitu juga, saat pihak sekolah dengan terpaksa harus memulangkan siswa pada orang tuanya karena mengeroyok temannya, cacian dan cercaan mendera kepada pihak sekolah.</p>
<p>                Mari kita coba berandai-andai. Seandainya siswa yang bermasalah tersebut tidak diberikan hukuman yang sifatnya mendidik dan tidak menciderai fisik mungkin saja nantinya mereka-mereka itulah yang akan terlibat tawuran antarpelajar (api sudah besar). Apakah hal seperti itu yang kita inginkan di dunia pendidikan, tentunya tidak. Kalau tidak, berarti pemberian hukuman atau memulangkan siswa kepada orang tuanya adalah suatu perlakuan yang wajar diberikan kepada siswa yang bersalah dan tentunya semua itu harus sesuai dengan prosedur yang ada.</p>
<p>               Dengan analogi seperti itu, artinya guru dan pihak sekolah sudah menjalankan pesan orang tua dulu, yaitu memadamkan apai ketika dia masih kecil (memberikan hukuman atau memulangkan kepada orang tua). Lalu kenapa yang bersangkutan harus menjadi pesakitan di pengadilan atau menerima cercaan dan makian masyarakat? Itulah ironinya dunia pendidikan kita sekarang. Ketika dunia pendidikan menegakkan aturan pendidikan demi lahirnya generasi-generasi yang berakhlak dan bermoral di masa mendatang menjadi bumerang bagi tenaga pendidik.</p>
<p>              Penulis yang juga sebagai seorang guru agak merasa sedikit kecewa dengan organisasi guru yang ada (PGRI). Kekecewaan itu lahir ketika rekan guru harus berurusan dengan hukum yang akhirnya menjadi pesakitan di pengadilan, PGRI diam dan  tidak bersuara seperti hilang tak berbekas. Seakan-akan membiarkan anggotanya menghadapi permasalahan sendiri. Selayaknya, sebagai sebuah organisasi PGRI harus memberikan bantuan hukum (terlepas berasalah atau tidak bersalah) kepada rekan guru tersebut ketika dia harus berhadapan dengan pengadilan.</p>
<p>             Kekecewaan itu semakin menggelisahkan ketika Kepala SMA N IV Angkek didera permasalahan. Beliau harus menerima cacian dan cercaan dari berbagai pihak termasuk jajaran pendidikan  karena dia terpaksa harus memulangkan siswa kepada orang tuanya. PGRI tidak mencoba cek silang pemberitaan yang ada di media masaa kepada yang bersangkutan. PGRI pun tidak bersuara ketika cacian dan cercaan di arahkan kepada anggotanya tersebut sehingga terpaksalah kepala sekolah dan guru-gurunya mengahdapi permasalahan itu. Pertanyaannya, apakah memang seperti itu perlakuan sebuah organisasi kepada anggotanya, apalagi PGRI adalah sebuah organisasi profesi.</p>
<p>           Dalam kesempatan ini penulis beraharap agar ke depannya PGRI mampu melindungi anggotanya dari segala tindakan. PGRI harus mampu bersuara lantang ketika anggotanya diperlakukan semena-mena baik oleh masyarakat maupun pihak-pihak lain yang merasa mempunyai kekuatan. PGRI harus berani melakukan pembelaan terhadap anggotanya (terlepas bersalah atau tidak) setidak-tidaknya melakukan pembelaan dengan bersuara di media masaa. Dengan begitu semua anggotanya merasa terayomi dan terlindungi oleh organisasi yang mereka masuki.</p>
<p>Semoga. Wassalam.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/labiah.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/labiah.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/labiah.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/labiah.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/labiah.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/labiah.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/labiah.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/labiah.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/labiah.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/labiah.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/labiah.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/labiah.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/labiah.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/labiah.wordpress.com/25/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=labiah.wordpress.com&amp;blog=9823569&amp;post=25&amp;subd=labiah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://labiah.wordpress.com/2011/02/06/paradoksnya-dunia-pendidikan-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f3b86c029fe966393aea61a500045ccd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">labiah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MAMAK</title>
		<link>http://labiah.wordpress.com/2009/10/25/mamak/</link>
		<comments>http://labiah.wordpress.com/2009/10/25/mamak/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Oct 2009 07:11:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ARMEL</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://labiah.wordpress.com/2009/10/25/mamak/</guid>
		<description><![CDATA[M A M A K “Alah sampai Mak Datuak? Alah Sutan. Sapanjang kato Mak datuak nan katangah, indak tarago nak diulang kok bisik lah tadanga kok himbau lah kalampauan. Dek kami duduak lai duo batigo, iyo nak ambo bao baiyo paretongan nan Mak Datuak sampaikan. Kok mananti Mak Datuak agak sajamang, baa kiro-kiro? Alah pada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=labiah.wordpress.com&amp;blog=9823569&amp;post=20&amp;subd=labiah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>M A M A K</p>
<p>“Alah sampai Mak Datuak? Alah Sutan. Sapanjang kato Mak datuak nan katangah, indak tarago nak diulang kok bisik lah tadanga kok himbau lah kalampauan. Dek kami duduak lai duo batigo, iyo nak ambo bao baiyo paretongan nan Mak Datuak sampaikan. Kok mananti Mak Datuak agak sajamang, baa kiro-kiro? Alah pada tampaiknyo tu Sutan, mananti salamaik kami.” (Sudah selesai Mak Datuak? Sudah Sutan. Sebanyak rundingan yang Mak Datuak sampaikan, dan tidak perlu diulang lagi semuanya sudah  terdengar/diketahui oleh orang banyak. Karena kami yang hadir ini lebih dari berdua, sebaiknya saya bawa bermusyawarah rundingan yang Mak datuak sampaikan. Bagaimana kalau menanti Mak Datuak agak sebentar? Sudah pada tempatnya itu Sutan. Kami tunggu dengan doa selamat.)<br />
	Itulah salah satu bentuk tatakrama yang ada dalam masyarakat kami ketika mau membicarakan sesuatu. Semua yang hadir dalam ruang pertemuan itu diajak ikut bicara memberikan masukan atau menguatkan yang telah disampaikan terlebih dahulu. Pada kondisi seperti ini berlakulah pepatah yang mengatakan “Duduak surang basampik-sampik, duduak basamo balapang-lapang”. Tidak ada perselisihan dan persengketaan yang tidak dapat diselesaikan kalau dibicarakan secara musyawarah (bersama).<br />
	“Baa dek waang Buyuang (nama panggilan kesayangan aku di waktu kecil), jo nan  disampaikan dek Mak datuak tadi, kok bisiak alah kadangaran kok himbau alah kalampauan? Lai sapakaik waang jo nan diampaikan mamak waang sabantako? Kalau indak, baa nan karancak dek waang, buliah bisa pulo disampaikan ka Mak datuak.” (Bagaimana dengan kamu Buyuang, seperti yang disampaikan Mak Datuak tadi tentang yang menjadi rundingan kita hari ini  seperti yang sudah diketahui orang banyak? Setujukah kamu dengan usul yang disampaikan oleh Mamak kamu sebentar ini? Kalau kamu tidak setuju, menurut kamu yang baiknya bagaimana, boleh bisa pula disampaikan kepada Mak Datuak.)<br />
Mulanya, aku tidak tahu bahwa pertanyaan itu ditujukan padaku makanya aku diam saja. Setelah dibisiki oleh Ibu, baru aku tahu bahwa kakakku yang tertua (Da Malin) bertanya dan meminta pendapat padaku. Aku pun menjadi gelagapan dan pucat serta malu karena tidak tahu apa yang harus kusampaikan, apalagi berbicara dengan bahasa Minang totok. Lagi-lagi ibuku yang menjadi dewa penyelamat, “kecekkan sajo ka si Malin tu waang satuju sajo jo pandapek uda Malin tantang rundingan tu” (katakan saja pada si Malin itu bahawa saya setuju dengan yang disampaikannya) Akhirnya, dengan terbata-bata aku pun mencoba menyampaikan yang dikatakan ibuku tadi kepada kakakku. “Iyo da Malin, ambo,  ambo . . . ambo iyo satuju sajo baa nan rancak di uda sajolah.” (Iya da Malin, saya,  saya . . . saya setuju saja bagaimana yang bagus sama da Malin sajalah).<br />
	“Hoi  Amran (nama asliku), baa kecek waang kamamulangi anak mamak waang, babahaso Minang sajo waang kini alah indak pandai lai tampaknyo. Ka waang gunggung habih pulo si Rosni ka Batawi tu sudah manikah, sorak bakoku padaku sambil tertawa.” (Hoi Amran, bagaimana kamu akan menikahi anak mamak kamu, berbahasa Minang saja tampaknya kamu sudah tidak bisa lagi. Akan kamu bawa lari habis si Rosni ke Jakarta itu setelah menikah, seru bakoku padaku sambil tertawa.) Ibuku yang duduk di sampingku hanya tersenyum simpul mendengar gurauan bakoku tadi. Hanya ayahku saja yang duduknya pas berhadapan denganku yang terdiam dengan muka memerah mendengar gurauan tadi.<br />
	Dua jam perundingan secara adat tentang pernikahan adik perempuankku berjalan sudah tapi tampaknya belum akan selesai dalam waktu cepat. Dudukku pun mulai gelisah. Keringat pun mulai membasahi badanku. Padahal kampungku itu adalah sebuah desa yang berada di perut gunung dengan udaranya yang cukup dingin. Karena dalam perundingan itu aku selalu diajak untuk bermusyawarah dalam bahasa Minang. Setiap jawaban yang kusampaikan (hasil bisikan dari ibuku) selalu menjadi bahan tertawaan yang lucu bagi keluarga besarku yang hadir.<br />
	Begitu banyak aku hadir dalam acara-acara seminar, simposium, lokakarya baik yang bersifat nasional maupun untuk tingkat internasional, belum pernah aku mengalami mandi keringat seperti musyawarah keluarga di kampunkug ini. Pengalaman yang sangat berharga dalam hidupku. Tidak ada lagi arti jabatan tinggi dan kekuasaan yang besar dalam musyawarah kelauarga adat.. Aku merasa menjadi anak kecil yang harus banyak belajar. Kata-kata putus hasil musyawarah yang didengar dan harus diikuti dalam acara itu adalah kata-kata dari Datuk. Datuk merupakan pemimpin tertinggi dalam kaum pasukuan.<br />
	“Rosni, Rosni, kamarilah kau!  Bilo kau alah jadi bini si Amran iyo harus pandai-pandai kau maajainyo babahaso Minang jo baradaik Minang. Kalau indak bias-bisa anak-anak kau nantiknyo manjadi urang indak baradaik. Malu awak biko jo urang kampuang”, sorak si Piyan kakak si Rosni. (Rosni, Rosni, kemarilah kamu! Setelah kamu jadi isteri si Amran, kamu harus pandai mengajari dia berbahasa Minang dan adat Minang. Jika tidak, jangan-jangan anak-anak kamu nantinya menjadi orang yang tidak mengerti adat. Malu kita nanti dengan orang kampung, seru si Piyan kakaknya si Rosni.) Mendengar perkataan seperti itu badanku menjadi lemas dan mukaku memerah.<br />
	Aku betul-betul tidak menyangka, bahwa mamakku tanpa setahuku telah menjodohkan putrinya dengan aku dan itu pun disetujui oleh ibuku. Gunjingan perjodohanku dengan si Rosni telah merebak di seluruh kampung. Orang-orang dikampung pun sudah meyakini pernikahan kami akan terjadi. Sebab mamakku adalah orang yang paling berpengaruh dalam kaumku setelah Mak datuak. Tidak satu pun di antara anak kemenakannya yang berani membantah perkataannya.<br />
	Sebetulnya aku memang sudah sangat lama tidak pulang ke kampung. Selama itu pula jika aku sedang rindu dengan keluarga di kampung, mereka aku kirimi tiket untuk datang ke Jakarta. Biasanya sekali enam bulan pasti ada yang ke Jakarta. Kadang-kadang Ibu dan Bapak yang ke Jakarta atau mamakku, dan kadang-kadang kakak perempuanku yang datang dengan suami dan anknya kalau tidak  pasti da Malin atau Ijah adikku yang bontot. Tiba-tiba tiga hari yang lalu, mendadak Aku disuruh pulang oleh mamakku untuk membicarakan pernikahan, ijah, adik perempuanku satu-satunya.<br />
Aku sekarang bak makan buah simalakama. Mamakku adalah orang terpandang dan berpengaruh. Jika tak menuruti keinginannya, jangan-jangan aku yang akan menjadi penyebab pecahnya kaum sukuku. Dituruti kemauan mamak dan ibuku, bagaimana janjiku dengan keluarga calon isteriku, orang Makasar, di Jakarta. Sementara aku selama ini selalu menganggap Rosni sebagai adikku dan tidak pernah ada punya perasaan-perasaan lain. Kebetulan dia pun seusia dengan adikku Ijah dan juga teman sepermainannya sejak kecil.<br />
Menghadapi permasalahan ini, aku betul-betul terjepit. Hanya bapakku yang selalu memberi dukungan kepadaku. Beliaulah satu-satunya orang yang sangat tidak setuju aku mengawini Rosni. Beliau tidak menginginkan hubungan kekeluargaan yang ada selama ini menjadi pecah akibat perkawinanku dengan Rosni. Sayangnya beliau tidak mau mengungkapkan mengapa perkawinanku dengan Rosni bisa menyebabkan perpecahan hubungan keluarga. Beliau sebetulnya juga telah berusaha supaya perjodohan itu tidak terjadi dengan memberikan pandangan pada ibuku. Tetapi, ibuku tidak menyetujui pandangan Bapak, ibu lebih sependapat dengan pandangan mamak.<br />
Usai sudah pernikahan dan pesta perkawinan Ijah adikku. Malamnya aku pun berbincang-bincang dengan ibu, uni Mar dan uda Malin beserta Bapak. Selagi kami asyik-asyiknya berbicara, Bapak melontarkan pertanyaan padaku, “Bilo waang ka baliak ka Jakarta Buyuang?” (kapan kamu akan kembali ke Jakarta Buyuang), katanya pelan tapi tajam. Aku pun terkesiap mendengar pertanyaan Bapak. Belum sempat aku menjawab, ibu telah lebih dulu menjawabnya “baa kok uda tanyoaan bana bilo si Buyuang baliak ka Jakarta. Inyo jaleh baru sapuluah hari di rumah dan mamaknyo pun alun sempat manyampaikan rencana kabaralek gadang antaro si Buyuang jo si Rosni” (kenapa uda tanyakan betul kapan si Buyuang akan kembali ke Jakarta. Dia jelas baru sepuluh hari di kampong dan mamaknya pun belum sempat menyampaikan rencana peseta perkawinan besar antara si Buyuang dengan si Rosni), celoteh ibu pada Bapak. Bapak pun hanya diam saja dan merasa malas mengomentari celoteh ibu. Beliau tetap menatap mukaku sambil menunggu jawabanku. Dua hari lagi Pak pasnya hari Rabu, karena hari Kamis aku sudah masuak kerja lagi. “Ancak baitu, samakin capek waang baliak samakin rancak” (bagus seperti itu, semakin cepat kamu kembali semakin baik), jawab Bapak sambil menghela nafas.<br />
Tiba-tiba dengan nada yang agak marah ibu pun membentak Bapak, “Baa kok uda mengecek sarupo itu, indak sanang mancaliak anak lamo di rumah?” (Mengapa uda bicara seperti itu, apa tidak suka melihat anak lama di rumah?). Bapak hanya diam saja tanpa berkomentar. Akhirnya bincang-bincang kami sekluarga malam itu tidak lagi berjalan dengan santai. Ibu selalu memprotes dan membentak setiap Bapak berbicara tentang aku, sementara Bapak tidak pernah mau mengomentari setiap protes dan bentakkan ibu.<br />
Paginya aku pun terlambat bangun sehingga saholat subuh pun tak sempat kukerjakan. Aku terbangun itu pun karena dibangunkan oleh ibu karena mamakku mencariku. Aku pun terkejut dan langsung bangun dan terus ke kamar mandi membersihkan badan. Selesai aku membersihkan badan aku pun terus ke ruangan tengah. Di situ sudah duduk mamakku sambil menghadapi secangkir kopi. “Hehemmm lamak bana lalok waang malamko Buyuang sampai talaik bagai jago?” (Enak betul tidur kamu mala ini Buyuang, sampai terlambat bangun), tanya mamak sambil mendehem. Sambil menarik kursi untuk duduk aku pun menjawab, “Tidak Mak, semalam kami tidurnya memang agak terlambat karena asyik bercerita sama ibu, uni, uda dan bapak. Oh ya sudah lama Mamak naik ke rumah?” Sebelum menjawab, mamak mengambil,cangkir kopinya dan menghirup isinya. Sambil meletakkan kembali cangkir kopi mamak pun menjawab, “alah satangah jam labiah, lah ampia habih pulo kopi den” (Sudah setengah jam lebih, dan sudah hamper habis pula kopi saya”.<br />
“Amran, tadanga dek den tadi disampaikan amak waang, iyo hari Rabu bisuak waang ka baliak ka Jakarta. Kalau iyo waang hari rabu bisuak ka baliak baa carito paretongan waang jo si Rosni? Aden jo amak waang alah sapakaik kamalangsungkan parnikahan kalian sabalun puaso bisuak. Baa nan rancak dek waang Amran?” (Amran, saya dengan seperti yang tadi disampaikan oleh ibu kamu tadi, betul hari rabu besok kamu akan kembali ke Jakarta?.Bila iya kamu akan kembali hari Rabu besok, bagaimana jelasnya hitungan pernikahan kamu dengan si Rosni? Saya sama ibu kamu sudah sepakat untuk melangsungkan acara pesta pernikahan kalian sebelum masuk puasa besok ini. Menurut kamu bagaimana yang baiknya, Amran). Inilah pertanyaan mamak yang sangat kutakuti setelah mendapat kabar tentang perjodohanku dengan Rosni. Lama, sangat lama sekali. Setelah kutarik nafas pelan-pelan makan dengan segala keberanian yang ada pada diriku aku mencoba  menjawab pertanyaan mamak tadi.<br />
 “Perjodohan saya dengan Rosni bagaimana Mak, bukankah Rosni adalah adik saya juga. Bukankah selama ini saya selalu memanjakan Rosni sebagai adik kandung seperti saya memanjakan Ijah? Kata-kata pun keluar dari mulutku secara lancar seakan aku sedang berhadapan bukan dengan mamakku, mamak yang mempunyai kekuasaan penuh dalam kaum. “Batua kato waang tu Buyuang, Si Rosni itu iyo adiak waang juo saroman ka si Ijah, tapi kan indak ado pulo salahnyo kalau kalian dipatamukan. Apo si Rosni itu indak cocok bantuaknyo dek waang, atau dek sikolanyo hanyo tamaik SMA sajo sahinggo maraso malu waang kalau inyo jadi bini waang?” (Betul katamu itu. Si Rosni itu adik kamu seperti kamu memandang si Ijah, tetapi tidak ada salahnya kalau kalian dinikahkan. Apa si Rosni itu tidak cocok rupanya buat kamu atau karena sekolahnya hanya tamat SMA saja sehingga kamu merasa malu kalau dia jadi isteri kamu?) Jawab mamakku dengan muka yang angker dan nada suara mulai agak tinggi. Rasa takutku yang tinggi awalnya, mulai berangsur-angsur berkurang sehingga aku pun berani menjawab pertanyaan mamak.<br />
“Bukan begitu maksudku  mak. Kalau dari segi rupa, Rosni tidak kalah cantik dari artis-artis yang ada di Jakarta. Bahkan setahu saya, selama ini si Rosni adalah bunga desa dan sangat banyak pemuda-pemuda yang mengejar-ngejarnya. Kalau masalah sekolah, saya pun awal berangkat untuk bekerja juga tamat SMA hanya nasib baik saja yang membawa peruntungan hidup ini.” Sambil berdiri dan membelakangi meja dengan setengah membentak dia pun berkata, “kalau itu jawek waang, banga waang indak namuah dikawinkan jo si Rosni samantaro aden jo amak waang alah sapakaik untuk manikahkan kalian baduo sahinggo hubungan kakaluargaan awak labiah arek jadinyo.” (Kalau itu jawabmu, kenapa kamu tidak mau dikawinkan dengan si Rosni sementara saya dengan ibu kamu sudah sepakat untuk menikahkan kalian berdua sehingga hubungan kekeluargaan kita lebih erat jadinya.) Mendengar bentakan mamak yang tidak mau memandangku, rasa takut itu kembali muncul maklum mamakku itu juga seorang “pandeka”. Aku menoleh ke arah ibu untuk minta bantuan beliau, tapi ibu pun pura-pura tidak melihat aku. Akhirnya dengan ketakutan yang kutekan, aku pun berbicara pada mamak,<br />
“Mamak, sampai saat ini aku belum ada berniat untuk beristeri. Aku sedang berpacu dengan karirku dan aku pun belum merasa terlalu terlambat untuk menikah karena usiaku baru 29 tahun. Sementara, kalau si Rosni sudah ingin menikah, ya nikahkan saja dulu dengan pria pilihannya.”<br />
Sambil mengeretakkan geraham dan menghentakkan kaki melangkah menuju pintu rumah, “kamanakan indak babanak, mantang-mantang urang bapangkaik, kecek waden inyo bantah dan inyo lawan pulo jo alasan-alasan nan indak masuak diaka. Alah jaleh diaden bahaso anak den indak katuju dek paja ko. Bialah, kok kababini waang kok indak kababini waang salasaikan sajo di waang surang. Usah waden dibaok-baok sato, alah jaleh dikau tu Imah!” (Kemenakan tidak punya otak, mentang-mentang orang berpangkat, kata-kata saya dibantahnya dan dilawan pula dengan alasan-alasan yang tidak bisa diterima oleh akal. Biarlah, mau beristeri kamu atau tidak mau beristeri kamu, kamu selesaikan saja sendiri. Jangan dibawa-bawa ikut saya, sudah jelas bagi kamu itu Imah!), sambil berjalan memandang ibu. Ibu hanya terpekur saja melihat pertengkaran aku dengan mamak.<br />
Ibuku pun menangis sepeninggal mamak. Dalam tangisnya Ibu pun berujar, “Itulah waang Buyuang, banga waang bantah kecek mamak waang. Waang kan tau sipaik mamak waang salamoko. Inyo urang nan indak namuah dibantah dan bapantang suruik kalau alah mangaluakan kecek. Ciek itu mamak kanduang waangmyo Buyuang, kinilah ditinggakannyo awak sakuluarga.” (Itulah kamu, buyuang, mengapa kamu membantah kata-kata mamak kamu. Kamu selama ini sudah tahu dengan sifat mamak. Mamak itu adalah orang yang tidak mau dibantah dan dia itu berpantang untuk mencabut kata-katanya kembali kalau sudah mengeluarkan suatu perkataan. Hanya satu orang itu saja lagi  yang mamak kandung kamu, dan sekarang kita sekeluarga sudah ditinggalkannya). Aku pun hanya terdianm saja mendengarkan perkataan ibu. Serba rumit dan serba sulit, kepalaku bertambah pusing memikirkannya. “Apakah aku harus menuruti kemauan mamak? Tidak, calon isteriku sudah menunggu di Jakarta”, teriak suara hatiku. Dan  apa pun yang kan terjadi aku harus mengambil kesimpulan bahwa aku tidak akan menikahi Rosni.<br />
Malamnya, aku pun dikeroyok oleh Uni, Uda, dan adikku Ijah mengenai pertengkaranku dengan mamak pagi tadi. Hanya Bapak yang mencoba membela keputusan yang telah kuambil. “Jan dipasoan si Amran ko manikahi si Rosni, biakan sajo inyo mancari pasangan hiduiknyo surang, karano nan kamamakai inyo surang, indak awak. Mar, Malin, dan kau Ijah apo salamoko kalian mancari pasangan ado Bapak jo Ibu nan mahalangi pilihan kalian dan apokah ado Bapak jo Ibu mamasokan pilihan kapado kalian? Co jawek dek kalian! Kalau indak, banga kini kalian ikuik pulo mamasoan kainginan mamak kalian ka si Buyuang? Sakironyo si Buyuang itu adolah badan kalian surang apo nan kakalian lakukan? (Jangan paksakan si Amran untuk menikahi si Rosni, biarkan dia mencari pasangan hidupnya sendiri, karena yang akan memakai adalah dia sendiri, bukan kita. Mar, Malin dan kau Ijah apa selama ini kalian mencari pasangan ada Bapak dan Ibu yang menghalangi pilihan kalian dan apakah ada Bapak dan Ibu memaksakan pilihan pada kalian? Coba kalian jawab! Kalau tidak, kenapa sekarang kalian ikut pula memaksakan kemauan mamak kalian pada si Buyuang? Seandainya posisi si Buyuang itu adalah diri kalian sendiri apa yang akan kalian lakukan?), ujar Bapak dengan wajah keras dan tegar. Akhirnya, Ibu, Uni Mar, Uda Malin dan si bungsu Ijah pun terdiam sambil menekuri lantai rumah, yang papannya baru saja diganti, mendengarkan perkataan Bapak.<br />
Pagi-pagi aku sudah bangun dan mempersiapkan segala barang-barangku untuk kembali ke Jakarta. Ibu, Uni, dan Ijah sudah sibuk pula membuat srapan pagi sebelum aku berangkat meninggalkan kampung. Sementara Bapak duduk-duduk di etras rumah dengan ditemani secangkir kopi. Ketika aku melangkahkan kaki untuk keluar rumah, terdengar suara Bapak bertanya, “Pai kama waang Buyuang, alah minum bagai waang?” (Pergi kemana kamu Buyuang, apa sudah minum kamu?),  sambil menatapku tajam.<br />
“Belum Pak, aku belum mau minum, aku mau ke rumah mamak sebentar”, ujarku sambil melangkah ke pekarangan rumah. “Banga juo waang kianlai? Beko marabo pulo inyo ka waang, (Mengapa juga kamu ke situ lagi? Nanti marah pula dia sama kamu), kata Bapak sambil berdiri mendekatiku.<br />
“Tidak apa-apa Pak, saya hanya mau pamitan kepada beliau. Tidak enak pula rasanya kalau saya berangkat ke Jakarta tidak pamitan sama beliau”, jawabku untuk menguatkan kepergianku ke rumah mamak.<br />
“Batua juo tu, baa pun inyo adolah mamak waang. Elok-elok sajolah jan ditambah pulo masalah baru lai!” (Betul juga itu, bagaimana pun juga dia adalah mamak kamu. Baik-baik sajalah dan jangan ditambah pula permasalahan yang baru!)  kata Bapak sambil melepas kepergianku.<br />
“Assalamualaikum, ada orang di rumah? Etek! Etek, ada Etek di rumah?” Seruku di halaman rumah mamakku sambil memandang ke dalam rumah.  Tiba-tiba terdengan sahutan dari belakang rumah, “ Alaikum salam, sia tu!? Tuan, Tuan sia tuh dilua ah ado tamu tu, caliak lah sabanta ambo sadang di balakang!” (Alaikum salam, siapa itu!? Tuan, Tuan ada siapa di luar, ada tamu kelihatannya, tolong lihat sebentar, saya sedang di belakang!)<br />
“Masuaklah, sia tu?” terdengar suara berat dari dalam rumah yang menyuruh masuk. Saya Mak, saya Amran! Sahutku dari halaman rumah dengan rasa was-was.<br />
“Oi, waang kironya! Ado apo lai waang kamari??? Alah batuka pangana waang tantang nan kapatang? Kalau alun ndak paralu waang naik ka rumah ko do! (O, kamu rupanya! Ada apa lagi kamu ke sini??? Sudah bertukar pikiran kamu tentang yang kemarin? Kalau belum tidak perlu kamu menaiki rumah saya!)<br />
Terkesima aku dibuatnya, mendengar perkataan Mamak yang tidak lagi ramah padaku, setelah dia tahu siapa yang datang ke rumahnya. Aku coba juga menjawabnya walapun agak terbata-bata, “Tidak Mak, aku kemari tidak untuk membicarakan persoalan kemarin Mak tapi mau pamitan sama Mamak, Etek dan adik Rosni bahwa aku akan kembali ke Jakarta pagi ini.”<br />
Mamak masih berdiri di ambang pintu rumahnya  sambil bertolak pinggang. “Indak paralu bagai diden. Kok kabakirok waang bakirok sajolah jan sampai mambuek aden tambah suga mancaliak waang. Ancak waang capek-capek angkek kaki dari rumah aden ko sabalun tibo kaki ko di pusek waang!” (Tidak perlu sama saya. Mau berangkat kamu berangkat sajalah kamu jangan sampai membuat saya lebih marah melihat kamu. Lebih bagus kamu cepat-cepat angkat kaki dari rumah saya sebelum tiba kaki ini di pusar kamu!). Bentak Mamak, sambil menutup pintu rumahnya.<br />
Aku pun tertunduk lesu jadinya, dengan perasaan tidak enak dan sedih terpaksa aku tinggalkan rumah Mamak kembali menuju rumah orang tuaku. Sepanjang jalan ke rumah, aku hanya tak habis pikir tentang mamakku yang ingin selalu memaksa. Bila ada orang yang tidak sepikiran dengannya, maka orang tersebut pun dimusuhinya termasuk adik kandungnya sendiri.<br />
Desaku yang indah, nyaman dan sejuk! Apakah ini adalah kepulanganku yang terakhir untuk menikmati keindahan dan kesejukanmu? Karena kepulanganku pasti tidak lagi diharapkan oleh keluarga ibuku. Apalagi kalau aku jadi menikahi gadis Makasar tahun besok, entah bagaimana badai yang akan melanda Bapak, Ibu, Uni, Uda, dan Ijah di kampung. Aku hanya kuatir kan keadaan ibu, beliau sangatlah takutnya kepada kakaknya atau Mamakku itu.<br />
Kampung halamanku yang damai, maafkanlah aku jika ini adalah kepulanganku yang terakhir menikmati aliran air sungai ketika mandi, mencicipi panasnya kopi di malam yang dingin sambil memakan jagung bakar. Bukannya aku tak merindukanmu, tapi kondisi yang membuatku harus menahan langkah untuk menikmati kamu kembali. Mudah-mudahan aku masih sempat kembali menikmati alammu yang indah permai, dan damai ini.</p>
<p>Bukittinggi, 20 Oktober 2009<br />
Catatan:<br />
1.	Bako (Keluarga dari pihak ayah)<br />
2.	Batawi  (Jakarta sekarang)<br />
3.	Bini  (isteri)<br />
4.	Buyuang  (panggilan untuk anak laki-laki)<br />
5.	Mamak (kakak/adik dari ibu)<br />
6.	Mak Datuak (pimpinan tertinggi dalam suatu kaum)<br />
7.	Minang totok (Minang asli)<br />
8.	Pandeka (pendekar)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/labiah.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/labiah.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/labiah.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/labiah.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/labiah.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/labiah.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/labiah.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/labiah.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/labiah.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/labiah.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/labiah.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/labiah.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/labiah.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/labiah.wordpress.com/20/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=labiah.wordpress.com&amp;blog=9823569&amp;post=20&amp;subd=labiah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://labiah.wordpress.com/2009/10/25/mamak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f3b86c029fe966393aea61a500045ccd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">labiah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pendidikan VS Korupsi</title>
		<link>http://labiah.wordpress.com/2009/10/15/pendidikan-vs-korupsi/</link>
		<comments>http://labiah.wordpress.com/2009/10/15/pendidikan-vs-korupsi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Oct 2009 15:32:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ARMEL</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://labiah.wordpress.com/2009/10/15/pendidikan-vs-korupsi/</guid>
		<description><![CDATA[ruang empat persegi berpentilasi cukup diajarkan etika, akhlak, agama sains, sejarah sambil berolah raga kata demi kata bunyi demi bunyi melantun menggema sunyi, mata tajam mengarah tak berkedip Panutan bergeming menunggu bunyi bel hari dari ke hari, minggu dari minggu ke minggu bulan dari bulan ke bulan, tahun dari tahun ke tahun tiada tersadari korupsi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=labiah.wordpress.com&amp;blog=9823569&amp;post=19&amp;subd=labiah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>ruang empat persegi berpentilasi cukup<br />
diajarkan etika, akhlak, agama<br />
sains, sejarah sambil berolah raga</p>
<p>kata demi kata bunyi demi bunyi melantun<br />
menggema<br />
sunyi, mata tajam mengarah<br />
tak berkedip<br />
Panutan bergeming menunggu bunyi bel</p>
<p>hari dari ke hari, minggu dari minggu ke minggu<br />
bulan dari bulan ke bulan, tahun dari tahun ke tahun<br />
tiada tersadari korupsi terajarkan<br />
Awal tahun ajaran bunga bangsa mulai terkorupsi</p>
<p>korupsi waktu, tidak punya nilai nominal<br />
tapi punya nilai moral terlakukan<br />
korupsi nilai dan diskriminasi terjadi<br />
dalam ruang empat persegi berpentilasi<br />
Tertanam didiri bunga bangsa<br />
perilaku panutan</p>
<p>Besar nanti aku pun bisa berlaku<br />
mengembalikan yang telah terambil<br />
sambil menambah rentenya untuk kehidupan<br />
harus, harus bisa mencontoh untuk mengembalikan</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/labiah.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/labiah.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/labiah.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/labiah.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/labiah.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/labiah.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/labiah.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/labiah.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/labiah.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/labiah.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/labiah.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/labiah.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/labiah.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/labiah.wordpress.com/19/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=labiah.wordpress.com&amp;blog=9823569&amp;post=19&amp;subd=labiah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://labiah.wordpress.com/2009/10/15/pendidikan-vs-korupsi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f3b86c029fe966393aea61a500045ccd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">labiah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MANDEKNYA PELAKSANAAN KEPMENDIKNAS 162 TAHUN 2003</title>
		<link>http://labiah.wordpress.com/2009/10/14/mandeknya-pelaksanaan-kepmendiknas-162-tahun-2003/</link>
		<comments>http://labiah.wordpress.com/2009/10/14/mandeknya-pelaksanaan-kepmendiknas-162-tahun-2003/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Oct 2009 15:37:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ARMEL</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://labiah.wordpress.com/2009/10/14/mandeknya-pelaksanaan-kepmendiknas-162-tahun-2003/</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini ditulis setelah membalik-balik Koran yang terbit bulan Desember 2008 tentang pendidikan di Agam. Ditemukan beberapa berita yang mungkin menjadi permasalahan dalam dunia pendidikan Kabupaten Agam. Di antaranya komentar dari Saudara Al Mujafri Surau dan Dewan Pendidikan Kabupaten Agam. Setelah mencoba menganalisa beberapa tulisan tersebut dicobalah menyimpulkannya seperti tulisan berikut ini. Badai kecil-kecilan sedang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=labiah.wordpress.com&amp;blog=9823569&amp;post=16&amp;subd=labiah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tulisan ini ditulis setelah membalik-balik Koran yang terbit bulan Desember 2008 tentang pendidikan di Agam. Ditemukan beberapa berita yang mungkin menjadi permasalahan dalam dunia pendidikan Kabupaten Agam.</p>
<p>Di antaranya komentar dari Saudara Al Mujafri Surau dan Dewan Pendidikan Kabupaten Agam. Setelah mencoba menganalisa beberapa tulisan tersebut dicobalah menyimpulkannya seperti tulisan berikut ini.</p>
<p>Badai kecil-kecilan sedang melanda dunia pendidikan Kabupaten Agam. Mulai dari pemagaran SMP N di Kecamatan Bawan, berkurangnya siswa SMP N 3 Canduang, sampai gagalnya SMK N 1 Ampek Angkek melaksanakan ujian semester 1 pada tahun ajaran 2008-2009. Kekisruhan yang terjadi dibeberapa sekolah di Kabupaten Agam mengundang komentar dan kritikan dari orang-orang yang peduli pendidikan.</p>
<p>Sebuah komentar cemerlang tentang pendidikan Kabupaten Agam disampaikan oleh seorang putra Agam yang bertugas di Kota Bukittinggi, Drs. Almujafri Surau, pada Harian Singgalang tanggal 18 Desember 2008 dengan judul “Pengangkatan Kepala Sekolah Berdasarkan `Perda` ?” Tulisan Perda yang berada dalam tanda petik dan diikuti tanda tanya besar sangat menggelitik untuk dibaca. Dan pada bagian akhir  tulisan tersebut kepanjangan Perda pun diplesetkan oleh Saudara Al Mujafri Surau. Peraturan daerah (Perda) diplesetkan menjadi “Pertalian darah dan pertalian daerah”.</p>
<p>Setelah ditelusuri dan “diimak-imak i” seluruh tulisan tersebut ternyata apa yang disampaikan beliau ada banyak benarnya. Jabatan kepala sekolah merupakan jabatan `presetius` bagi seorang guru yang ambisius. Bila jabatan kepala sekolah telah  diperoleh mereka ketakutan untuk kehilangan. Ketakutan yang berlebihan muncul bagi mereka yang mendapatkan jabatan tersebut berdasarkan Perda plesetan. Bermacam cara dilakukan untuk dapat tetap bertahan menjadi kepala sekolah, walaupun KepmenDiknas nomor 162/U/2003 telah tegas-tegas mencantumkan masa jabatan kepala sekolah. Anehnya, pihak yang berkompeten tentang pengisian jabatan kepala sekolah pun mengikuti irama yang ada di lapangan. Sebuah Keputusan Menteri tidak lagi dipandang sebagai sebuah aturan yang yang harus dijalankan.</p>
<p>Suara yang disampaikan Saudara Al Mujafri Surau tentang kinerja kepala sekolah sebetulnya “Sabunyi sadanciang” dengan yang dilontarkan oleh Ketua Dewan Pendidikan Agam (Singgalang,11-12-2008) dengan judul “Kinerja Kepsek Perlu Dievaluasi”. Beliau meminta Dinas Pendidikan untuk dapat melakukan evaluasi terhadap masing-masing kepala sekolah. Dari hasil evaluasi tersebut diharapkan Dinas Pendidikan betul-betul tepat untuk menempatkan seseorang memegang jabatan kepala sekolah. Penempatan jabatan kepala sekolah pada orang yang tepat akan mampu memacu mutu pendidikan di sekolah yang dipimpinnya khususnya Kabupaten Agam umumnya. Dan dunia pendidikan Agam akan mampu berbicara dan berbuat di level yang lebih tinggi sehingga “kok duduk samao randah, kok tagak samo tinggi” dengan kabupaten/kota lain.</p>
<p>Pendidikan di sebuah sekolah keberhasilannya tidak bisa ditentukan oleh peranan seorang kepala sekolah saja. Bagaimana pun piawainya  pengetahuan seorang kepala sekolah dia tidak akan mampu membuat pendidikan di sekolahnya berhasil bila berjalan sendiri. Apalagi kalau kepemimpinannya dijalankan secara arogan dan kekerasan.</p>
<p>Harus disadari keberhasilan pendidikan di sebuah sekolah ditentukan oleh berbagai komponen. Dan tidak zamannya lagi sebuah sekolah dikelola dan dipimpin secara arogan dan kekerasan. Karena, dunia pendidikan adalah tempat melahirkan/menghadirkan manusia-manusia terdidik dan berakhlak bukan tempat menciptakan manusia-manusia preman. Untuk itu pendidikan harus dikelola secara jujur, berakhlak, dan bermartabat.</p>
<p>Namun, bagaimana pun baik dan “rancaknyo” ulasan dan komentar yang disampaikan Saudara Al Mujafri Surau demi kemajuan pendidikan Agam khususnya Sumatera Barat umumnya, tentu `bapulangnyo ka pihak si pangka juo`. Bila pihak yang berkompeten di Kabupaten Agam `icak-icak indak mandanga` atau berpandangan negatif terhadap isi tulisan saudara Al Mujafri maka terjadilah `kok suaro nak baa no suaro lah, nan oto kabajalan juo`</p>
<p>Demi kemajuan pendidikan di Agam, maka sudah selayaknya Pemkab Agam “menyimaki” dan menghayati Kepmendiknas 162/U/2003 tentang masa jabatan kepala sekolah. Laksanakanlah aturan main tentang jabatan kepala sekolah dan jangan “diakali” lagi peraturan tersebut dengan melakukan rotasi kepala sekolah dari sekolah yang satu ke sekolah lainnya. Lakukanlah rekrutmen kepala sekolah secara terbuka dengan baik, bersih, dan jujur. Pelaksanaan rekrutmen kepala sekolah serahkan pada  tim indenpenden dengan melibatkan ahli psikologi. Sehingga tidak berbunyi lagi nada-nada sumbang akan pengangkatan kepala sekolah (rumah sudah tokok babunyi)</p>
<p>Bagi guru-guru yang pada saat ini masih memegang jabatan kepala sekolah juga diminta kebesaran jiwa untuk menerima pelaksanaan Kepmendiknas 162/U/2003. Jika harus kembali jadi guru terimalah dengan lapang dada, karena sebelum menjadi kepala sekolah juga berasal dari guru. Tugas seorang guru juga berupa tugas yang mulia dalam melaksanakan amanat pembukaan UUD 1945 untuk mencerdaskan bangsa. Semoga.</p>
<p>Bukittinggi, 15 Oktober 2009</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/labiah.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/labiah.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/labiah.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/labiah.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/labiah.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/labiah.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/labiah.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/labiah.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/labiah.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/labiah.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/labiah.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/labiah.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/labiah.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/labiah.wordpress.com/16/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=labiah.wordpress.com&amp;blog=9823569&amp;post=16&amp;subd=labiah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://labiah.wordpress.com/2009/10/14/mandeknya-pelaksanaan-kepmendiknas-162-tahun-2003/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f3b86c029fe966393aea61a500045ccd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">labiah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SURAT UNTUK RAKYAT PELESTINA DI GAZA</title>
		<link>http://labiah.wordpress.com/2009/10/12/surat-untuk-rakyat-pelestina-di-gaza/</link>
		<comments>http://labiah.wordpress.com/2009/10/12/surat-untuk-rakyat-pelestina-di-gaza/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Oct 2009 12:12:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ARMEL</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://labiah.wordpress.com/2009/10/12/surat-untuk-rakyat-pelestina-di-gaza/</guid>
		<description><![CDATA[Saudara-saudaraku, Rakyat Pelestina di Gaza Kusadari dan kupahami nasib kalian Kalian tak obahnya bagaikan ikan kekeringan dalam baskom Tak bisa lari kemana-mana hanya menunggu waktu Kalian ulurkan tangan ke luar baskom Tapi, manusia-manusia di luar baskom adalah manusia-manusia tak bermata manusia-manusia tak bertelinga manusia-manusia tak berhati manusia-manusia tak bertangan Saudara-saudaraku, Rakyat Pelestina di Gaza Kalian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=labiah.wordpress.com&amp;blog=9823569&amp;post=15&amp;subd=labiah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saudara-saudaraku, Rakyat Pelestina di Gaza<br />
Kusadari dan kupahami nasib kalian<br />
Kalian tak obahnya bagaikan ikan kekeringan dalam baskom<br />
Tak bisa lari kemana-mana hanya menunggu waktu<br />
Kalian ulurkan tangan  ke luar baskom<br />
Tapi,<br />
manusia-manusia di luar baskom adalah manusia-manusia tak bermata<br />
manusia-manusia tak bertelinga<br />
manusia-manusia tak berhati<br />
manusia-manusia tak bertangan</p>
<p>Saudara-saudaraku, Rakyat Pelestina di Gaza<br />
Kalian harus bersatu berjuang<br />
Keluar dari baskom dan pemilik baskom<br />
Jangan biarkan kalian berdiam diri menunggu maut datang<br />
Maut itu pasti datang pada kita<br />
Tapi kapan, dimana, dengan apa datangnya, seorang pun tak tahu<br />
Jangan kuatirkan maut itu datang, dan<br />
Kalian tak perlu takut melawan kekejaman dan kezaliman<br />
Tegakkan kembali harkat martabat dan harga dirimu, Rakyat Pelestina<br />
Mari berjuang sampai maut itu datang menghampiri</p>
<p>Saudara-saudaraku, Rakyat Pelestina di Gaza<br />
Kalian tidak berdiri dan berjuangsendiri,<br />
kami anak Bangsa Indonesia dan Saudara-Saudara kalian anak Bangsa lainnya di sampingmu<br />
Kami, anak Bangsa Indonesia selalu berada di belakang kalian, Rakyat Pelestina<br />
Kami akan selalu mendukung setiap pergerakan perjuangan kalian, Rakyat Pelestina<br />
Kami akan selalu membantu kalian, Rakyat Pelestina, dalam setiap tindakkan melawan Zionis Israel<br />
Kami akan selalu berdoa kepada Allah Yang Maha Besar untuk selalu melindungi Rakyat Pelestina<br />
dari kekejaman Zionis Israel dan sekutunya<br />
Kami selalu menyampaikan permohonan kepada Allah Yang Maha Kuat<br />
untuk memberikan kekuatan  pada Rakyat Pelestina menghadapi kezaliman Zionos Israel</p>
<p>	Kayu Rantingan, 14 Januari 2009</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/labiah.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/labiah.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/labiah.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/labiah.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/labiah.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/labiah.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/labiah.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/labiah.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/labiah.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/labiah.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/labiah.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/labiah.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/labiah.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/labiah.wordpress.com/15/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=labiah.wordpress.com&amp;blog=9823569&amp;post=15&amp;subd=labiah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://labiah.wordpress.com/2009/10/12/surat-untuk-rakyat-pelestina-di-gaza/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f3b86c029fe966393aea61a500045ccd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">labiah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kemurkaan Alam</title>
		<link>http://labiah.wordpress.com/2009/10/11/kemurkaan-alam/</link>
		<comments>http://labiah.wordpress.com/2009/10/11/kemurkaan-alam/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Oct 2009 08:01:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ARMEL</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://labiah.wordpress.com/2009/10/11/kemurkaan-alam/</guid>
		<description><![CDATA[Hidup bermain kata, mati bermain kaji. Tuhan berkehendak, kita hanya berencana. Sapaan, elusan, dan teguran telah diberikanNya kita lengah dan alpa akan keberadaanNya Alquran dan sunnah jadi pajangan Khutbah dan nasehat, bagai siaran tak bermakna duniawi dan materialisme jadi tujuan kehidupan harta arak wanita memupus sudah sapaan, elusan, dan teguran Alam dengan mata memerah hembusan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=labiah.wordpress.com&amp;blog=9823569&amp;post=14&amp;subd=labiah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hidup bermain kata,<br />
mati bermain kaji.<br />
Tuhan berkehendak, kita hanya berencana.<br />
Sapaan, elusan, dan teguran telah diberikanNya<br />
kita lengah dan alpa akan keberadaanNya</p>
<p>Alquran dan sunnah jadi pajangan<br />
Khutbah dan nasehat, bagai siaran tak bermakna<br />
duniawi dan materialisme jadi tujuan kehidupan<br />
harta<br />
arak<br />
wanita<br />
memupus sudah<br />
sapaan, elusan, dan teguran</p>
<p>Alam dengan mata memerah<br />
hembusan napas memburu<br />
otot-otot bertegangan<br />
menghentak, menghantam, dan mengguncang bumi<br />
insani tersentak histeris<br />
berteriak, melolong, dan meraung<br />
memanggilMu histeris</p>
<p>Tanah, air, bebatuan, lumpur<br />
tak lagi bersahabat<br />
rumput pun tak mau bersentuhan<br />
Hewan-hewan ternak tak berdosa<br />
bergelimpangan<br />
Bumi murka<br />
Bumi membelah dan mengoyak diri</p>
<p>Allah Yang Maha Esa<br />
masih sayang<br />
Pengoyakan bumi terhenti,<br />
namun belum selesai.<br />
Kesempatan diberikan</p>
<p>Tobatkah kita?</p>
<p>                Bukittinggi, 11 Oktober 2009</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/labiah.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/labiah.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/labiah.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/labiah.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/labiah.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/labiah.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/labiah.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/labiah.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/labiah.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/labiah.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/labiah.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/labiah.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/labiah.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/labiah.wordpress.com/14/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=labiah.wordpress.com&amp;blog=9823569&amp;post=14&amp;subd=labiah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://labiah.wordpress.com/2009/10/11/kemurkaan-alam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f3b86c029fe966393aea61a500045ccd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">labiah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SALUT DAN TERIMA KASIH PELNI</title>
		<link>http://labiah.wordpress.com/2009/10/07/salut-dan-terima-kasih-pelni/</link>
		<comments>http://labiah.wordpress.com/2009/10/07/salut-dan-terima-kasih-pelni/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Oct 2009 08:29:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ARMEL</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://labiah.wordpress.com/2009/10/07/salut-dan-terima-kasih-pelni/</guid>
		<description><![CDATA[Bgtu pedulinya PELNI trhadap peristiwa gempa di Sumbar, sehingga PELNI memberikan tarif gratis bagi relawan atau keluarga korban yang ingin pulang ke Sumbar. Tidak tanggung2, boleh dikatakan kapal Pelni yang brangkat dari Jakarta kew Padang membawa tompangan gratis mulai dari bantuan, relawan, dan keluarga korban. Jika dibandingkan dengan transportasi lainnya, udara atau darat, ternyata transportasi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=labiah.wordpress.com&amp;blog=9823569&amp;post=3&amp;subd=labiah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bgtu pedulinya PELNI trhadap peristiwa gempa di Sumbar, sehingga PELNI memberikan tarif gratis bagi relawan atau keluarga korban yang ingin pulang ke Sumbar. Tidak tanggung2, boleh dikatakan kapal Pelni yang brangkat dari Jakarta kew Padang membawa tompangan gratis mulai dari bantuan, relawan, dan keluarga korban.<br />
Jika dibandingkan dengan transportasi lainnya, udara atau darat, ternyata transportasi laut lebih manusiawi. Mereka tdk mau mempergunakan kesempatan untuk memperkaya diri seperti yang dilakukan transportasi udara atau darat. Bayangkan harga tiket dari Jakarta ke Padang saat bencana gempa menimpa Ranah Minangkabau sampai Rp 3.000.000,- (tiga juta rupiah). Begitu juga ongkos transportasi darat, dari Padang ke Bukittinggi dipunggut mulai dari Rp 50.000,- sampai dengan Rp 100.000,-<br />
Rasanya pelaku2 bisnis transportasi seperti itu harus malu. Bangsa lain dari seluruh penjuru dunia datang mengantarkan bantuan untuk meringankan beban saudara2 kita yang trtimpa bencana gempa. Mereka datang dengan segala kebutuhan yang diperlukan untuk menyelamatkan nyawa dunsanak2 kita. Mereka tidak lagi memikirkan jumlah nilai bantuan dan nilai nyawa mereka ketika memberikan pertolongan. Sementara kita yang sebangsa, tidak memikirkan dan berbuat bagaimana untuk memberikan penyelamatan malah memikirkan bagaimana menambah kekayaan yang ada. Luar biasa.<br />
Untuk itu, sudah sepantasnya kita masyarakat Minangkabau mulai saat ini secara bersama menghidupkan kembali Teluk Bayur dengan menggunakan jasa transportasi laut. Kita kembalikan kejayaan nama Teluk Bayur. Tinggalkan transportasi udara dan darat yg tidak manusiawi dan selalu mencekik leher kita di saat2 penting (lebaran, liburan sekolah, dan bencana kemanusiaan). Sekali lagi, saya menghimbau masyarakat Minangkabau dimana saja untuk kembali menggunakan jasa transportasi laut, terutama menggunakan jasa transportasi PELNI<br />
Pada kesempatan ini sebagai warga Minangkabau, saya mengucapkan terima kasih pada PELNI yang telah rela mengratiskan atau memberi diskon kepada saudara2 kami untuk dapat bertemu dengan sanak saudaranya di Ranah Minang ini. Semoga amal perbuatan yang telah diperbuat diberikan balasan yang setimpal oleh Allah Swt. Dan semoga kejayaan PELNI di tahun 70-an kembali lagi di ranah Minangkabau. Amin.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/labiah.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/labiah.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/labiah.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/labiah.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/labiah.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/labiah.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/labiah.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/labiah.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/labiah.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/labiah.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/labiah.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/labiah.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/labiah.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/labiah.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=labiah.wordpress.com&amp;blog=9823569&amp;post=3&amp;subd=labiah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://labiah.wordpress.com/2009/10/07/salut-dan-terima-kasih-pelni/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f3b86c029fe966393aea61a500045ccd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">labiah</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
