naskah puisi-puisi
SALAHKAH
7 10 2009
Salahkah kalau kami berbicara tentang keadaan?
Salahkah apabila kami berpikir kritis?
Salahkah jika kami menentang kesalahan?
Salahkah seandainya kami berbicara dan mengkritik
masalah ketidakbenaran?
Salahkah, bila ketidakbenaran ditentang ?
Salahkah, jika keangkaramurkaan dilawan?
Salahkah, ketika berbicara kebenaran dan keadilan?
Kalau tidak,
kenapa kami dikuliti, dilucuti, dicampakkan?
Kenapa kami diberi label pemberontak, pembangkang,
yang harus segera disingkirkan?
segala cara dilkukan mencampakkan, menyingkirkan melalui
kekuasaan,
kekuatan,
Kenapa . . . .?
Ayo beri jawaban ! ! !
Lelah sudah kami menunggu tak pasti
tak pernah menerima yang diharapkan.
Hanya, kami sudah jadi korban keganasan
dari kekuasaan dan kekuataan.
Masihkah ada kekuatan idealis nasionalis?
Bukittinggi, 29 September 2009
Sunting : Sunting
Komentar : Leave a Comment »
Kategori : Uncategorized
Buat: Aidha Rizkina
Allaahu Akbar Allaahu Akbar Allaahu Akbar
Kumandang takbir bergetar di bibir
helaan nafas mengguncang di dada.
Bagaikan getaran dan guncangan gempa yang meluluhlantakan
bumi persada.
Allaahu Akbar Allaahu Akbar Allaahu Akbar
Begitu banyak nikmat, rahmat dan hidayahMu kuterima.
Nikmat, rahmat dan hidayahMu yang buat aku jadi
Kelalaian dan kealpaanku bersyukur menghantam jiwaku
membuat batinku menjerit dalam kesunyian
di tengah hiruk pikuk kumandang suara takbir
Allaahu Akbar Allaahu Akbar Allaahu Akbar
Dahsyatnya dunia materialis menyesak ke otakku
membuatku lupa apa yang sebenarnya harus kulakukan.
Diriku hanya ingat akan jasmani, lupa ‘kan rohani
Allaahu Akbar Allaahu Akbar Allaahu Akbar
Di hari yang Fitri ini dalam kumandang namaMu
Aku menyesal melupakan kebiasaanku
aku menyesal alpa berbuat untuk umatMu
Di tengah kumandang namaMu
aku datang menghampiri
memohon dan meminta
Allaahu Akbar Allaahu Akbar Allaahu Akbar
Jangan lalaikan aku dari kebiasaanku
jangan lupakan aku berbuat untuk umatMu
hapuskanlah kemarahanku
pupuskanlah rasa kebencianku
Tumbuhkanlah aku kembali seperti semula
hidupkan dan gairahkanlah aku kembali untuk mengabdi
Mengabdi dengan atas namaMu.
Allaahu Akbar Allaahu Akbar Allaahu Akbar
Kayu Rantingan, 23 September 2009
TANGAN-TANGAN IBLIS DI GAZA
Darah berceceran di sana-sini
Kekejaman tampa rasa merajai hati
Gaza diporak-porandakan
Alasan-alasan usang diungkapkan
Pembenaran perilaku tak benar
Di Gaza
Tangis dan derai air mata tiada lagi
Kebekuan, kebencian, dendan lahir
Buah tangan W. Buss, Simon Peres
Menjadi kenangan sepanjang masa
Ratusan anak-anak tak berdosa jadi korban
Ratusan anak-anak tak tahu apa-apa jadi mayat
Hidup pun dengan kondisi cacat
Tanpa kaki, tanpa tangan,
Tanpa mata, tanpa telinga
Tanpa sanak saudara,
dan tanpa muka
Buah tangan W. Buss dan Simon Peres
Gaza kota pusat perhatian dunia
Gaza jadi kota mati, kota bergelimangan,
Kota puing-puing,
Kota yang penuh dengan reruntuhan
kota yang penuh dengan mayat-mayat tak berdosa
Wahaiiii . . . . . . . .! ! !
Penguasa-penguasa negara dunia
Kenapa kaliam berdiam diri memandang kekejian di Gaza
Apakah Dajal yang dijanjikan turun itu melalui kalian?
Kalau tidak, Tolong . . . . . . hentikan
Tangan-tangan iblis,
Tangan-tangan kekejaman,
Tangan-tangan tak kenal rasa kasih sayang
Di Gaza
Kayu Rantingan, 14 Januari 2009
MARI BERSATU
Dentuman mortir, bom meraung bagaikan erangan
Dilawan memakai pestol dan senapan
Desiran peluru, letusan senapan dengan galaknya meledak
Dihadapi memakai lemparan batu
Bagaikan David melawan Goliath
Kobaran api dalam puing-puing berserakan
Mayat-mayat tak bertuan bergeletakan di setiap sudut Gaza
Israel
Yaah israel, si yahudi meluluhlantakkan tanah Pelestina
Tanpa ampun tanpa mendengar seruan dan erangan siapa pun
Setiap sudut Gaza berbaukan mesiu dan angit menyengat
Tak ada kata lagi terucapkan untuk rakyat Pelestina
Lalu,
Kemana dan dimana rakyat Negara-Negara Arab
Masyarakat Islam dunia lainnya?
Membiarkan saudara-saudaranya dibantai yahudi
Pembantaian yang dijadikan tontonan
Amerika, polisinya dunia “katanya”
Mendiamkan, membiarkan, menutup mata
Perbuatan pengkriminilan Israel terhadap rakyat Pelestina
Si yahudi Israel tak akan berani jika amerika bersuara
Suara amerika ibarat suara hantu di siang hari bagi Israel
Jangan biarkan lagi darah Rakyat Pelestina bececeran di tanah
Jangan ada lagi mayat-mayat berserakan dihantam bom dan mortir
Jangan diamkan lagi Israel dan amerikan menzalimi saudara-saudara kita
Rakyat Pelestina
Mari, mari, mari …. semua Negara Islan dan umat Islam dunia kita bersatu
Bersatu menggalang kekuatan hancurkan kajahilan Israel
Tegakkan kepala kita, umat Islam,
Tatap mata yahudi dengan mata darah
jangan takut akan teknologi dan persenjataan mereka
Umat Islam dunia bukan boneka yahudi dan amerika
Mari bersatu,
hancurkan kezaliman dalam peradaban manusia yang beradab
Kayu Rantingan, 4 Januari 2009
AKU menangis
AKU menangis
Aku menangis
Miris dan malu menjadi bangsa yang tabah dan berdiam diri
Melihat saudara-saudara se-Iman diluluhlantakan
Bom, roket, rudal berseleweran membantai
Bayi, anak-anak, kaum renta dan wanita
Jadi korban untuk perisai keganasan iblis-iblis berupa manusia
Aku menangis
Puluhan nyawa-nyawa tak berdosa melayang
Tak satupun tangan yang mampu menahannya
Kedigdayaan dan kekuasaan mendukung pemusnahan
Kita pun hanya mampu menonton
Tak berdaya dan takut akan keadidayaan yang super
Pendukung si pemusnah
Aku menangis
Berbaris anak-anak kehilangan bapak menjadi piatu
Anak-anak kehilangan ibu menjadi yatim
Isteri-isteri kehilangan suami
Ibu-ibu kehilangan anak
Kaum lelaki yang kehilangan tangan, kaki, mata
Isteri, anak, keluarga dan harta
Aku menangis
Kecongkakkan bangsa adidaya dan digdaya
Merenggang tangan di pinggang mata mendelik
Melakukan pemusnahan tanpa rasa berdosa
Kepongahan membutakan mata hati
Kukuasaan menasbihkan segala laku
Aku menangis
Perserikatan Bangsa-Bangsa, Amerika bermain teater
Seruan dan resolusi PBB suatu skenario dengan teks surat cinta
Kutukan dan sumpah serapah Amerika improvisasi nyanyian irama maut
Keteateran William sheksphere mengiringi langkah-langkah trap demi trap
Tapi, kita percaya akan sandiwara yang dilakonkan PBB dan Amerika
Aku menangis
Tangisan rakyat Pelestina tak kuasa dininabobokan
Rintihan rakyat Pelestina
Sekedar lagu gumaman dalam diri kita
Perih dan pedih mendera dada, ketika
Bangsa-bangsa yang tak punya percaya diri
Hanya mampu menghambakan diri, monggo, silakan
Aku menangis
Sambil berdoa ke haribaanNya, mendatangkan muzizat
Bagi saudara-saudaraku Rakyat Pelestina
Kayu Rantingan, 29 Desember 2008
Sebelas Purnama
Sebelas purnama kulalui
menanti kedatanganmu.
Penantian bagai tak kunjung berakhir
seakan kau enggan bertemu
Ketika kau datang menghampiri
aku begitu merasakan kehidupan ini
Penantiang yang begitu lama terlupakan
Tapi, kau hanya sesaat bisa kudapati
Satu purnama kau pun berlalu
Kepergianmu yang tak dapat ditolak
Aku hanya berharap, masih bisa bertemu denganmu
walau pun harus menunggu sebelas purnama lagi
Assalamu’alaikum wr wb..
pak, senang rasanya melihat bapak masih aktif menulis..is jadi terinspirasi buat mulai menulis lagi pak.walaupun dah lama banget ga nulis..sejak di bandung, is dah ga pernah berkarya..cerpen, puisi,…nothing…
makasih pak..
btw, blognya is link ya pak..
-Ismanidar-
Oleh: Chiba Yumi on 26 Oktober 2009
at 4:41 pm
makasih Is, Bpk jg dah lama kali ngk nulis2. Nih skrg baru nyoba nulis lagi, apa msh bs ngk yaa? Biarlah waktu sj yg menentukannya
Oleh: ARMEL on 27 Oktober 2009
at 9:46 am
pasti bisa pak..klo bapak bisa jd motivator is. harusnya juga bisa jadi motivator diri sendiri kan pak..he2..
ayo pak, bersama2 semangat lagi dlm berkarya..
itung2 aplikasi semangat sumpah pemuda
Oleh: Chiba Yumi on 28 Oktober 2009
at 2:54 am
Mengenangmu, Patamuan
Mengenangmu, Patamuan
lewat koran pagi dan segelas kopi
dan sisa subuh yang malas, engkau
kembali mengelupasi ingatan
“seperti bawang, makin dikupas makin entah”
Remah dan sisa hujan, tanah-tanah dan curam longsoran
kembali menimbuniku untuk ke sekian
tak ada yang kutemukan di sengau igauan
selain gertakan sepi dan bara yang sudah
tak berapi lagi, menemuimu sepagi ini
ah, Patamuan, mengenangmu
lewat kardus-kardus kosong berlabel bantuan
kemanusiaan, deadline di koran-koran kemaren;
berdebu, dan seperti ada lelah menerjuni lurah
sunyiku memandangimu bak primadona
dengan foto-foto eksotis; merah tanah, terjal longsoran
dan selusuh ingatan kuacak lagi, mengenangmu
di koran pagi
barangkali beburung pun enggan
menceritakan sarang di rimba-rimba bebukitmu
sebagai peta yang hilang dan keberatan
kelak anak-anak mereka membikin sarang
di korong matimu
mengenangmu, Patamuan
tangis ibu-ibu kehilangan bujangnya
tak sesenjapun melahirkan ampun
tangis beburung kehilangan sarang
dan sisa jejak kaki Izrail di tanah-tanah
reruntuhan rumah dan kantong-kantong jenazah
mengawang duka sepertinya tak ingin sembuh
dari sepuh kenangan yang kian menjauh
dan deadline koran-koran seperti tak kunjung
menggerimiskan tandus yang makin kerontang dihatiku
mengenangmu dengan segenap reruntuhan ingatan
Lasi, November 2009
Akhyar Fuadi
Oleh: akhyar fuadi on 24 Desember 2009
at 4:12 am